Faktur Pajak elektronik (e-Faktur)

pajakSudah tahukah anda bahwa mulai 1 Juli 2015 nanti sudah mulai diberlakukan Faktur Pajak Elektronik?

Apakah itu sama saja dengan pelaporan SPT dengan flashdisk kemarin? Kalau tidak, apa bedanya?

Ok mari kita bahas satu persatu terlebih dahulu..

Sebagaimana kita ketahui bahwa hal yang mendasari diberlakukannya Faktur Pajak Elektronik adalah banyaknya transaksi yang menggunakan Faktur Pajak yang tidak seharusnya atau lebih dikenal dengan faktur pajak fiktif. Untuk menyikapi hal tersebut maka Direktorat Jenderal Pajak menerbitkan beberapa aturan sbb:

  1. Pasal 13 UU Nomor 42 TAHUN 2009 (berlaku sejak 1 April 2010) tentang perubahan ketiga atas UU Nomor 8 TAHUN 1983 tentang PPN barang dan jasa dan PPnBM
  2. Pasal 17 s/d 20 PP 1 TAHUN 2012 (berlaku sejak tanggal diundangkan (4 Januari 2012) kecuali mengenai Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 20 berlaku sejak tanggal 1 April 2010) tentang Pelaksanaan UU Nomor 8 TAHUN 1983 tentang PPN dan PPnBM sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UU Nomor 42 TAHUN 2009 tentang perubahan ketiga atas UU Nomor 8 TAHUN 1983 tentang PPN dan PPnBM
  3. Pasal 4 ayat (2), Pasal 11 , Pasal 12, dan Pasal 19 huruf f PMK-151/PMK.03/2013 (berlaku sejak 1 Januari 2014) tentang tata cara  pembuatan dan tata cara pembetulan atau penggantian FP
    1. PMK ini mencabut PMK-84/PMK.03/2012 (berlaku sejak 7 Juni 2012) tentang tata cara  pembuatan dan tata cara pembetulan atau penggantian FP
  4. PER-16/PJ/2014 (berlaku sejak 1 Juli 2014) tentang Tata Cara Pembuatan dan Pelaporan Faktur Pajak Berbentuk Elektronik
  5. KEP-136/PJ/2014 (berlaku sejak 1 Juli 2014) tentang Penetapan PKP yang Diwajibkan Membuat Faktur Pajak Berbentuk Elektronik
  6. PENG-01/PJ.02/2014 tentang Faktur Pajak Berbentuk Elektronik (e-Faktur)

Faktur Pajak berbentuk elektronik, yang selanjutnya disebut e-Faktur, adalah Faktur Pajak yang dibuat melalui aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak. (Pasal 1 ayat (1) PER-16/PJ/2014)

Aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak ini dilengkapi dengan petunjuk penggunaan (manual user) yang merupakan satu kesatuan dengan aplikasi atau sistem elektronik tersebut.

Siapa saja yang wajib menggunakannya?

PKP yang diwajibkan membuat e-Faktur adalah PKP yang telah ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak. (Pasal 1 ayat (2) PER-16/PJ/2014)

  1. daftar PKP yang wajib membuat t e-Faktur mulai tanggal 1 Juli 2014 : (diktum pertama KEP-136/PJ/2014)
    1. Wajib Pajak tertentu yang termasuk Wajib Pajak Besar
  2. daftar PKP yang wajib membuat t e-Faktur mulai tanggal 1 Juli 2015 : (diktum kedua KEP-136/PJ/2014)
    1. Semua Wajib Pajak di Jawa dan Bali
  3. PKP yang wajib membuat t e-Faktur mulai tanggal 1 Juli 2016 : (diktum ketiga KEP-136/PJ/2014)
    1. Semua Wajib Pajak
  4. PKP yang wajib membuat t e-Faktur mulai tanggal PKP dikukuhkan

Kalau misalnya tidak membuat gimana?

PKP yang telah diwajibkan membuat Faktur Pajak berbentuk elektronik namun tidak membuat Faktur Pajak berbentuk elektronik atau membuat Faktur Pajak berbentuk elektronik namun tidak mengikuti tata cara sebagaimana dimaksud pada PER-16/PJ/2014, PKP tersebut dianggap tidak membuat Faktur Pajak. (Pasal 11 ayat (4) PMK-151/PMK.03/2013)

Transaksi yang wajib dibuatkan e-Faktur

PKP wajib membuat e-Faktur untuk setiap:

  1. penyerahan BKP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a dan/atau Pasal 16D UU PPN; dan/atau
  2. penyerahan JKP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf c UU PPN.

Yang dikecualikan dari kewajiban pembuatan e-Faktur

Kewajiban pembuatan e-Faktur dikecualikan atas penyerahan BKP dan/atau JKP: (Pasal 2 ayat (2) PER-16/PJ/2014)

  1. yang dilakukan oleh pedagang eceran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 PP 1 TAHUN 2012;
  2. yang dilakukan oleh PKP Toko Retail kepada orang pribadi pemegang paspor luar negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16E UU PPN; dan
  3. yang bukti pungutan PPN-nya berupa dokumen tertentu yang kedudukannya dipersamakan dengan Faktur Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6) UU PPN

Saat pembuatan e-Faktur

e-Faktur wajib dibuat oleh PKP pada:

  1. saat penyerahan BKP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a dan/atau Pasal 16D UU PPN;
  2. saat penyerahan JKP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf c UU PPN;
  3. saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan BKP dan/atau sebelum penyerahan JKP;
  4. saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan; atau
  5. saat lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan tersendiri.

Keterangan yang wajib ada pada e-Faktur

e-Faktur harus mencantumkan keterangan tentang penyerahan BKP dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang paling sedikit memuat: (Pasal 4 ayat (1) PER-16/PJ/2014)

  1. nama, alamat, dan NPWP yang menyerahkan BKP atau JKP;
  2. nama, alamat, dan NPWP pembeli BKP atau penerima JKP;
  3. jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau Penggantian, dan potongan harga;
  4. PPN yang dipungut;
  5. PPnBM yang dipungut;
  6. kode, nomor seri, dan tanggal pembuatan Faktur Pajak; dan
  7. nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak. Tanda tangan ini berupa tanda tangan elektronik. (Pasal 4 ayat (2) PER-16/PJ/2014)

 e-Faktur yang salah pengisian (e-Faktur PENGGANTI)

Atas e-Faktur yang salah dalam pengisian atau salah dalam penulisan, sehingga tidak memuat keterangan yang lengkap, jelas dan benar, Pengusaha Kena Pajak yang membuat e-Faktur tersebut dapat membuat e-Faktur pengganti melalui aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan Direktorat Jenderal Pajak. (Pasal 6 PER-16/PJ/2014)

 Apabila ada transaksi yang batal (PEMBATALAN e-Faktur)

Dalam hal terdapat pembatalan transaksi penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP yang e-Fakturnya telah dibuat, PKP yang membuat e-Faktur harus melakukan pembatalan e-Faktur melalui aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan Direktorat Jenderal Pajak. (Pasal 7 PER-16/PJ/2014)

Apabila e-Faktur rusak atau hilang

  1. Atas hasil cetak e-Faktur yang rusak atau hilang, PKP yang membuat e-Faktur dapat melakukan cetak ulang melalui aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan Direktorat Jenderal Pajak. (Pasal 8 ayat (1) PER-16/PJ/2014)
  2. Atas data e-Faktur yang rusak atau hilang, PKP dapat mengajukan permintaan data e-Faktur ke Direktorat Jenderal Pajak melalui KPP tempat PKP dikukuhkan dengan menyampaikan surat Permintaan data e-Faktur sebagaimana diatur dalam Lampiran PER-16/PJ/2014 (Pasal 8 ayat (2) PER-16/PJ/2014)
    • o Permintaan data e-Faktur ini terbatas pada data e-Faktur yang telah diunggah (upload) ke Direktorat Jenderal Pajak dan telah memperoleh persetujuan dari Direktorat Jenderal Pajak. (Pasal 8 ayat (3) PER-16/PJ/2014)
    • o Dalam hal PKP diwakili atau menunjuk kuasa, Petugas Khusus menindaklanjuti sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. (Huruf E angka 3 SE-21/PJ/2014)

 Dalam hal PKP tidak dapat membuat e-Faktur

  1. Dalam hal terjadi keadaan tertentu yang menyebabkan PKP tidak dapat membuat e-Faktur, PKP diperkenankan untuk membuat Faktur Pajak berbentuk kertas (hardcopy).
  2. Keadaan tertentu yang menyebabkan PKP tidak dapat membuat e-Faktur ini adalah keadaan yang disebabkan oleh peperangan, kerusuhan, revolusi, bencana alam, pemogokan, kebakaran, dan sebab lainnya di luar kuasa PKP, yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.
  3. Dalam hal keadaan tertentu yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak telah berakhir, data Faktur Pajak berbentuk kertas (hardcopy) yang dibuat dalam keadaan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diunggah (upload) ke Direktorat Jenderal Pajak oleh PKP melalui aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk mendapatkan persetujuan dari Direktorat Jenderal Pajak.

 Bentuk e-Faktur

  1. Bentuk e-Faktur adalah berupa dokumen elektronik Faktur Pajak, yang merupakan hasil keluaran (output) dari aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak. (Pasal 10 ayat (1) PER-16/PJ/2014)
  2. e-Faktur tidak diwajibkan untuk dicetak dalam bentuk kertas (hardcopy). (Pasal 10 ayat (2) PER-16/PJ/2014)
  3. Dalam hal e-Faktur dicetak dalam bentuk file pdf dan/atau kertas, maka contoh tampilannya ada dalam PENG-01/PJ.02/2014)
  4. Apabila e-Faktur dicetak di atas kertas yang disediakan secara khusus oleh Pengusaha Kena Pajak, misalnya kertas yang telah dicetak logo perusahaan, alamat, atau informasi lainnya, maka e-Faktur yang dicetak di atas kertas tersebut tetap berfungsi sebagai Faktur Pajak. (PENG-01/PJ.02/2014)

 Kewajiban pelaporan e-Faktur  (Pasal 11 PER-16/PJ/2014)

  1. e-Faktur wajib dilaporkan oleh PKP ke Direktorat Jenderal Pajak dengan cara diunggah (upload) ke Direktorat Jenderal Pajak dan memperoleh persetujuan dari Direktorat Jenderal Pajak.
  2. Pelaporan e-Faktur ini dilakukan dengan menggunakan aplikasi atau sistem elektronik yang telah ditentukan dan/atau disediakan Direktorat Jenderal Pajak.
  3. Direktorat Jenderal Pajak memberikan persetujuan untuk setiap e-Faktur yang telah diunggah (upload) sepanjang Nomor Seri Faktur Pajak yang digunakan untuk penomoran e-Faktur tersebut adalah Nomor Seri Faktur Pajak yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Pajak kepada PKP yang membuat e-Faktur sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  4. e-Faktur yang tidak memperoleh persetujuan dari Direktorat Jenderal Pajak bukan merupakan Faktur Pajak.

7 thoughts on “Faktur Pajak elektronik (e-Faktur)

  1. maaf nee.. saya newbie belum pernah ditempatkan dibagian pajak.. dan pertama saat ini saya kerja langsung ditempatkan di bagian perpajakan. tidak ada yang mengajari maupun memberikan info secara detail pada saya..

    perusahaan saya juga baru..
    mohon petunjuknya untuk perusahaan pelayanan jasa itu biasanya pengenaan pajaknya, jenis pajak apa aja ya ?
    dan prosedur pembayarannya bagaimana?

    • ibu rose, untuk perusahaan jasa itu kewajibannya adalah terkait pph pasal 21, pasal 23, pasal 25, pasal 28/29.. ada juga yg harus dip[erhatikan pasal 4 ayat 2, pasal 22.

      sayang sekali disini tidak dijelaskan secara rinci jasa dimaksud.
      untuk lebih jelasnya, ibu bisa datang ke kantor pajak sesuai NPWP perusahaan, kemudian bertanya kesana,, mau tau siapa AR (Account Representative)nya. nanti akan dibimbing secara detail

      dan pelayanan konsultasi ini GRATIS..

      sekian, semoga bisa membantu..🙂

    • ibu siti, saat ini terdaftar di kantor pajak mana? silakan hubungi kantor pajak terdaftar, biasanya tiap minggu ada penyuluhan tentang e faktur di kantor pajak setempat selama bulan maret dan april ini.

      sekian, semoga bisa membantu..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s