Permohonan Pembebasan Dari Pemotongan Dan/Atau Pemungutan Pajak Penghasilan Oleh Pihak Lain

Dalam menjalankan suatu perusahaan atau organisasi ataupun yayasan atau bahkan perorangan, tentunya tidak akan pernah lepas dari yang namanya pajak.

Memank belakangan ini istilah pajak sangat popular karena adanya beberapa kasus yang sedang heboh. Lantas apakah dengan adanya kasus-kasus yang mencuat kita tidak akan membayar pajak?

Mank ada untungnya gak bayar pajak?

kalo ruginya pasti banyak. Lah kalau begitu kenapa gak bayar pajak?

Dalam berbagai kondisi yang dialami, terkadang kita tidak memungkinkan untuk membayar pajak, adakah solusi untuk masalah ini?

Direktur Jenderal Pajak baru-baru ini menerbitkan peraturan Peraturan Dirjen Pajak – PER – 1/PJ/2011 Tentang Tata Cara Pengajuan Permohonan Pembebasan Dari Pemotongan Dan/Atau Pemungutan Pajak Penghasilan Oleh Pihak Lain.

dalam peraturan tersebut dijelaskan bahwasannya kita dapat dibebaskan dari pembayarn pajak yang dipotong atau dipungut oleh pihak lain.

 

Syarat umum yang harus dipenuhi antara lain

  1. Wajib Pajak yang dalam tahun pajak berjalan dapat membuktikan tidak akan terutang Pajak Penghasilan karena:
    1. mengalami kerugian fiskal;
    2. berhak melakukan kompensasi kerugian fiskal;
    3. Pajak Penghasilan yang telah dan akan dibayar lebih besar dari Pajak Penghasilan yang akan terutang,
    4. dapat mengajukan permohonan pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak lain kepada Direktur Jenderal Pajak.
    5. Wajib Pajak yang atas penghasilannya hanya dikenakan pajak bersifat final, dapat mengajukan permohonan pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan kepada Direktur Jenderal Pajak.

Jadi Wajib Pajak yang bersangkkutan selain dipotong Pajak Penghasilan yang bersifat final juga yang bersifat tidak final.

  1. Permohonan tersebut tidak berlaku terhadap pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan yang bersifat final.
  2. Proses pembebasannya sendiri melalui Surat Keterangan Bebas yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak yang dalam hal ini adalah Kantor Pelayanan Pajak dimana Wajib Pajak terdaftar.

 

 

Surat Keterangan Bebas sebagaimana dimaksud diatas diberikan kepada:

 

  1. Wajib Pajak yang dalam tahun pajak berjalan dapat membuktikan tidak akan terutang Pajak Penghasilan karena mengalami kerugian fiskal dalam hal:
    1. Wajib Pajak yang baru berdiri dan masih dalam tahap investasi;
    2. Wajib Pajak belum sampai pada tahap produksi komersial; atau
    3. Wajib Pajak mengalami suatu peristiwa yang berada di luar kemampuan (force majeur).
    4. Wajib Pajak yang dalam tahun pajak berjalan dapat membuktikan tidak akan terutang Pajak Penghasilan karena berhak melakukan kompensasi kerugian fiskal sebagaimana dimaksud dalam huruf b diatas, dengan memperhitungkan besarnya kerugian tahun-tahun pajak sebelumnya yang masih dapat dikompensasikan yang tercantum dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan atau surat ketetapan pajak.
    5. Wajib Pajak yang dapat membuktikan Pajak Penghasilan yang telah dan akan dibayar lebih besar dari Pajak Penghasilan yang akan terutang sebagaimana dimaksud dalam huruf c.
    6. Wajib Pajak yang atas penghasilannya hanya dikenakan pajak bersifat final.

 

Proses atau tata cara permohonan ke Direktorat Jenderal Pajak

  1. Permohonan pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan diajukan secara tertulis kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar dengan syarat telah menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak terakhir sebelum tahun diajukan permohonan kecuali untuk Wajib Pajak yang baru berdiri dan masih dalam tahap investasi
  2. Permohonan diajukan untuk setiap pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 21, Pasal 22, Pasal 22 impor, dan/atau Pasal 23 dengan menggunakan formulir sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.
  3. Dilampiri penghitungan Pajak Penghasilan yang diperkirakan akan terutang untuk tahun pajak diajukannya permohonan untuk  Wajib Pajak yang baru berdiri dan masih dalam tahap investasi;  Wajib Pajak belum sampai pada tahap produksi komersial; atau Wajib Pajak mengalami suatu peristiwa yang berada di luar kemampuan (force majeur)
  4. Atas permohonan pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan, Kepala Kantor Pelayanan Pajak harus memberikan keputusan dengan menerbitkan:
  • Surat Keterangan Bebas; atau
  • surat penolakan permohonan Surat Keterangan Bebas,
  1. dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari kerja sejak permohonan diterima secara lengkap.
  2. Apabila dalam jangka waktu tersebut Kepala Kantor Pelayanan Pajak belum memberikan keputusan, permohonan Wajib Pajak dianggap diterima.
  3. Dalam hal permohonan Wajib Pajak dianggap diterima, Kepala Kantor Pelayanan Pajak wajib menerbitkan Surat Keterangan Bebas dalam jangka waktu 2 (dua) hari kerja setelah jangka waktu terlewati.

Catatan

  1. Surat Keterangan Bebas sebagaimana dimaksud Pasal 2 berlaku sampai dengan berakhirnya tahun pajak yang bersangkutan.
  2. Bentuk formulir Surat Keterangan Bebas untuk:
  • pemotongan dan/atau pemungutan PPh Pasal 21/Pasal 22/Pasal 23 adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II,
  • pemungutan PPh Pasal 22 impor adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran III

 

Silahkan download disini

 

  1. Dalam hal permohonan pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan ditolak, Kepala Kantor Pelayanan Pajak harus menyampaikan pemberitahuan kepada Wajib Pajak dengan mempergunakan formulir sebagaimana dimaksud dalam Lampiran IV Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.
  2. Pada saat Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku, Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-192/PJ/2002 tentang Tata Cara Penerbitan Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan dan/atau Pemungutan Pajak Penghasilan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
  3. Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku pada tanggal 1 Februari 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s